Bissmillahirahmanirrahim.....
Malam Jakarta hari itu cerah, seperti biasa semakin malam perutku sering keroncongan karena lapar. Aku adalah penjaga sebuah warnet yang tidak jauh dari rumah. jaknet nama warnet itu. Dan tidak jauh sekitar 200 meter ada Warkop (Warung kopi) dan biasanya disana juga ada Indomie Rebus.
Seperti biasa aku memesan Indomie rebus rasa soto dan segelas kopi jahet buat penghangat kala angin malam menghempas tubuhku. Wah.. nikmat sekali ketika makanan dan minuman yang dipesan sudah tersaji didepanku.
Dan ketika itu pula, ada beberapa kuli yang bekerja untuk memperbaiki jalan, yang rancananya untuk meninggikan jalan untuk mencegah banjir. Tengah malam ia pun bekerja dengan keringat yang bercucur letih dan bekerja sama sebagai team. Ketika mereka beristirahat, ku dengar pembicaraan dan logat bahasanya. Aku tersentak, ternyata ia bahasa dan logatnya aku begitu mengenalnya. dan ternyata memang mereka sekampung denganku. Mereka memang biasa bekerja seperti itu, dikampung mereka menunggu pemborong-pemborong entah dari Jakarta, Bandung bahkan sampai ke Bali. Dan mereka adalah pekerja kasar, seperti menggali, mengebor dan sejenisnya. Mungkin dapat dimaklumi dari segi pendidikan mereka kurang. SMP, SD bahkan tidak sekolah sama sekali.
Justru yang menjadi prihatin dalam benakku, Ketika hasil kerja yang ia peroleh dari keringatnya di Jakarta atau Kota lainnya. Ketika ia pulang kekampung halamannya. Sebagian besar yang masih berjiwa muda, mereka gunakan untuk foya-foya bahkan mabok-mabokkan dan nyawer bila ada dangdut panggung. Ironis memang, itulah realita.. Bagaimana mereka bisa kaya, atau bagaimana mereka berfikir masa depannya.. ah entahlah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.. Yang jadi anehnya lagi penyakit itu mereka tularkan ke generasi dibawahnya. Seakan kehidupan UNDUGROUND dan keBrutalan menjadi tren dalam pergaulan.
Semoga Alloh memberikan petunjuk dan hidayah untuknya... Amiin



